Dunia Bisnis di Malaysia

Minggu yang lalu saya meeting dg partner bisnis di Kuala Lumpur, Malaysia. Kami sedang merintis kerjasama bisnis untuk menggarap pasar ASEAN secara bersama-sama. Saya tahu partner bisnis kami ini melirik pasar Indonesia yang besar, makanya mereka mau bekerjasama dengan kami. Tapi kami juga tertarik bekerjasama dengan mereka karena ingin belajar bagaimana perusahaan-perusahaan Malaysia bisa lebih sukses dibanding perusahaan-perusahaan Indonesia dalam hal regionalisasi bisnis mereka di kawasan ini. Lihat saja betapa banyak perusahaan Malaysia yang beroperasi di Indonesia, dan sebaliknya betapa sedikit perusahaan Indonesia yang beroperasi di Malaysia.

Pertanyaannya, mengapa perusahaan Malaysia lebih sukses dalam melakukan ekspansi regional daripada kita? Apakah karena mereka lebih pintar? Masak iya sih kita kalah pintar?

Dari interaksi dengan cukup banyak teman-teman dari Malaysia, baik mereka itu pengusaha, karyawan swasta maupun pegawai negeri, jujur saya akui bahwa rerata orang Malaysia itu lebih educated dibanding orang Indonesia. Harus kita akui kita kalah dalam hal tingkat pendidikan ini, yang tentu saja berpengaruh dalam cara berpikir. Ini kalau bicara rerata orang ya, tidak bicara orang per orang. Wajar dengan tingkat pendidikan dan cara berpikir yang lebih merata itu Malaysia bisa lebih maju dari kita. Perkembangan sektor bisnis dan kebijakan pemerintah mereka lebih sinkron, dan itu sudah berlangsung jauh lebih lama dibanding Indonesia yang belum lama melakukan pembenahan. Wajar Petronas mendunia, wajar bank-bank Malaysia meregional.

Tapi bicara kreativitas orang per orang, saya melihat Indonesia lebih unggul. Dan ini bisa menjadi modal yang sangat baik bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya. Apalagi kalau didukung oleh kebijakan pemerintah yang sinkron dengan dunia bisnis. Potensi pasar Indonesia yang sangat besar dan pembangunan infrastruktur besar-besaran yang sedang digalakkan pemerintah tentu saja akan menjadi faktor pengungkit yang luar biasa bagi pertumbungan ekonomi Indonesia.

Jadi belajar dari Malaysia, Indonesia harus terus meningkatkan sistem pendidikannya supaya tingkat pendidikan rerata manusia Indonesia bisa lebih tinggi. Karena tingkat pendidikan yang lebih merata di seluruh lapisan masyarakat inilah yang akan sangat mempengaruhi pertumbuhan sebuah negara. Hanya ada yang saya tidak begitu sreg dengan Malaysia ini, yaitu kebijakan ekonomi pro etnis tertentu. Dalam jangka pendek, mungkin saja kebijakan ini baik untuk mengatasi kesenjangan bagi etnis tertentu tersebut. Tetapi dalam jangka panjang, kebijakan itu justru akan melemahkan daya saing mereka. Apalagi kalau dilakukan tanpa batas waktu. Kalaupun kebijakan itu ditiru, harus dibuat formula yang tepat dan yang lebih penting harus menjunjung prinsip keadilan bagi semua. Kalau tidak, kebijakan yang seolah baik ini justru akan memperlemah daya saing yang bersangkutan. Dunia bisnis adalah dunia yang keras, dan tidak ada tempat bagi orang manja yang hanya mengandalkan uluran pihak lain untuk mengembangkan bisnisnya.

Salam,
Hari

sumber fb Hari Tjahjono

 

BUKU JALAN BERLIKU, PENGALAMAN AKTUAL HARI TJAHJONO.

Harga : Rp 100.000,-,
Penerbit : M84 Publishing , Koperasi Jasa Teknik Mesin Delapan Empat
Halaman : xi+340 hal
Dimensi : 13×25 cm
Warna: Disertai dengan foto full color
Kertas: book paper 70
Berat : 560 kg

Untuk Ikatan Alumni silahkan kontak masing-masing koordinator alumni untuk pemesanan atau langsung order disini .

ORDER (Ready Stock) di Bukalapak.Com :

KLIK DISINI UNTUK ORDER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *