Entrepreneurship di Jepang

Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi dengan teman-teman di group Indoglobit mengenai entrepreneurship di berbagai negara. Teman-teman Indoglobit yang anggotanya adalah para pengusaha di bidang IT sangat concern dengan entrepreneurship di tanah air, karena kami percaya bangsa ini butuh lebih banyak entrepreneur supaya bisa segera mengejar ketertinggalan di banding negara-negara yang sudah maju.

Bicara entrepreneurship, tentu saja kiblatnya adalah Amerika Serikat. Apalagi kalau kita bicara industri IT. Startup companies banyak bermunculan di negara Paman Sam ini, dan banyak pula diantara mereka yang mendunia dan mengubah peta bisnis dunia secara dramatis. Ada Microsoft, Apple, Facebook, Google, Amazon dan lain-lain. Yang menarik, kalau bicara entrepreneurship biasanya kita, paling tidak saya, sering beranggapan bahwa negara yang paling banyak entrepreneur-nya adalah negara-negara maju. Jadi spontan kita berpikir bahwa negara-negara seperti Jerman, Inggris, dan Jepang tentulah banyak memiliki entrepreneur-entrepreneur hebat karena banyak sekali perusahaan-perusahaan raksasa berasal dari negara-negara maju ini.

Tapi benarkah negara maju selalu identik dengan entrepreneurship? Jawabannya menang iya untuk kasus Amerika Serikat. Tetapi ternyata tidak untuk Jepang! Mengapa demikian?

Jepang memang negara industri maju dan perusahaan-perusahaan Jepang banyak menguasai bisnis di seluruh dunia. Toyota, Honda, Mitsubishi hanyalah beberapa nama saja diantara ratusan dan bahkan ribuaan perusahaan Jepang yang berkiprah di seluruh dunia. Tapi ternyata banyaknya perusahaan raksasa asal Jepang itu tidak identik dengan semangat entrepreneurship di kalangan anak-anak muda Jepang saat ini. Jiwa entrepreurship anak-anak muda Jepang di era tahun 1930an ketika Toyota baru berdiri mungkin memang sangat tinggi. Tapi itu tidak berlaku di zaman sekarang ini.

Jiwa entrepreneurship anak-anak muda Jepang sekarang ternyata sangat rendah. Mimpi mayoritas anak-anak muda Jepang sekarang setelah lulus kuliah adalah bekerja di perusahaan besar dan hidup tenang dan mapan. Sulit mencari anak-anak muda Jepang dengan semangat mengambil resiko dan “berani mati” demi mewujudkan mimpinya mendirikan startup companies. Dan kalaupun ada, mereka sangat kesulitan untuk mencari talenta unggul yang mau bergabung dengan startups yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Alhasil, startups di Jepang menghadapi masalah yang pelik, yaitu tidak hanya minimnya anak muda yang mau mengambil resiko berbisnis, tetapi juga anak muda yang maju bekerja di startup companies yang sedang merintis bisnis untuk menghadapi masa depan yang bisa jadi berubah sangat drastis.

Kalau demikian adanya, bagaimana nasib Jepang di masa depan? Apakah ini bukan peluang bagi Indonesia?

Salam,
Hari

BUKU JALAN BERLIKU, PENGALAMAN AKTUAL HARI TJAHJONO.

Harga : Rp 100.000,-,
Penerbit : M84 Publishing , Koperasi Jasa Teknik Mesin Delapan Empat
Halaman : xi+340 hal
Dimensi : 13×25 cm
Warna: Disertai dengan foto full color
Kertas: book paper 70
Berat : 560 gram
Untuk Ikatan Alumni silahkan kontak masing-masing koordinator alumni untuk pemesanan atau langsung order disini .

ORDER Ready Stock di Bukalapak.Com :

KLIK DISINI UNTUK ORDER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *