If It Does Not Kill You, It Makes You Stronger

Setelah menerbitkan buku “Jalan Berliku – Catatan Perjalanan Seorang Technopreneur”, beberapa sahabat yang sudah membaca buku tersebut memberikan dorongan supaya saya terus menuliskan pengalaman mendirikan dan membesarkan perusahaan, sebagai warisan bagi generasi muda harapan bangsa. Salah satu pengalaman yang perlu dibukukan adalah bagaimana menghadapi krisis yang pasti sering terjadi ketika merintis usaha sendiri.

Situasi kritis dalam merintis usaha adalah makanan sehari-hari. Krisis bahkan sudah terjadi di hari pertama ketika kita mendirikan perusahaan, dan akan terus terjadi selama perusahaan masih berdiri. Jadi jangan berpikir untuk menghilangkan krisis, karena krisis itu bagian dari dinamika perusahaan itu sendiri. Jadi kalau takut menghadapi krisis, sebaiknya kita berpikir ulang untuk mendirikan perusahaan sendiri. Karena kalau takut menghadapi krisis, tentu saja profesi entrepreneur bukanlah pilihan yang tepat untuk membangun karir.

Tiga bulan pertama memanglah masa bulan madu yang indah bagi seorang pengusaha pemula, yang baru saja merintis usaha. Semuanya masih terlihat indah dan gagah. Kita masih tenang-tenang saja dan masih bisa mentolerir ketika dalam 3 bulan pertama belum ada deal yang bisa kita dapatkan. Tetapi memasuki 3 bulan berikutnya, kita akan mulai panik ketika tidak mampu juga mendapatkan deal. Kita mulai ragu-ragu, benarkah keputusan menjadi entrepreneur adalah keputusan yang tepat? Saya pun demikian. Saya mulai panik ketika sampai 6 bulan pertama belum juga mampu mendapatkan deal, padahal “kapal sudah saya bakar”. Saya sudah resmi keluar dari tempat saya bekerja di perusahaan multinational, dan sudah meninggalkan rezim gajian bulanan. Sementara istri dan keempat anak saya butuh makan dan biaya pendidikan yang tidak sedikit. Akankah saya berani lanjut dengan rencana “gila” menjadi entrepreneur ketika usia sudah menginjak 44 tahun?

Krisis dahsyat itu ternyata bukan satu-satunya. Selama lebih dari 8 tahun ini, krisis dahsyat itu terus timbul tenggelam. Ketika perusahaan baru berusia 1 tahun misalnya, kami memenangkan tender di dua perusahaan besar di Indonesia. Tentu saja ini berita baik. Tetapi tidak lama setelah kami memenangkan tender tersebut, masalah yang tidak kalah dahsyat kembali terjadi. Saya dipanggil oleh orang kuat dan diminta mundur dari 2 tender yang baru saja kami menangkan itu. Saya disidang di sebuah hotel, dan ancaman itu sangat serius kalau saya tidak mengikuti kemauan mereka untuk mundur dari tender yang sangat prestisius itu. Saya sempat shock mengetahui dunia bisnis ternyata penuh dengan kekerasan seperti ini. Tapi bismillah, saya memutuskan melawan ancaman itu, saya tidak sudi mundur dari tender yang sudah menguras tenaga dan pikiran saya sampai habis itu. Dan ternyata, ketika kita kukuh dan stay strong, ancaman-ancaman itu ternyata hanya gertak sambel saja. Semuanya ternyata tidak seburuk yang saya duga. Alhamdulillah.

Masalah adalah dinamika perusahaan. Mereka datang silih berganti. Dalam setahun saja, sudah ada 2 masalah sangat serius yang harus kami hadapi. Masalah-masalah itu datang silih berganti dengan kompleksitasnya masing-masing. Pernah kami dibuat pusing tujuh keliling karena tidak tahu mesti kemana ketika butuh dana milyaran rupiah sebagai kolateral untuk pembuatan payment guarantee. Saat itu kami belum bankable, dan meminjam dana ke bank bukanlah sebuah pilihan. Di saat yang lain, ketika kami sudah bankable, ternyata masalah tidak berhenti juga. Kami butuh dana cash puluhan milyar rupiah, dan itu jauh lebih besar dari fasilitas kredit bank yang kami miliki. Dan believe it or not, masalah-masalah yang sangat pelik itu ternyata bisa kami lalui, tentu saja dengan akrobat yang luar biasa menantang, dan dengan kepasrahan total kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Believe it or not, ketika masalah yang amat dahsyat itu kita kembalikan kepada Tuhan, ternyata Tuhan sudah memiliki solusi yang tidak kita sangka-sangka. Percaya deh, solusi dari Tuhan itu keren pisan euy… he-he-he…

Makanya saya sangat setuju dengan peribahasa yang saya jadikan judul tulisan ini: If It Does Not Kill You, It Makes You Stronger.

Salam,
Hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *