Mempromosikan Buku Kepada Rekan, Kolega dan Dunia Maya

Menjual buku ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Di tengah minimnya daya literasi masyakarat Indonesia, jual buku seperti menjual barang aneh yang sulit sekali membangkitkan minat pembelinya. Karena itu, kami menjualnya door to door ke pintu-pintu komunitas dimana kelompok pembaca buku sekiranya berada. Inipun tidak sepenuhnya berhasil karena sering juga dugaan kita keliru, kelompok yang ditaksir sebagai kalangan pembaca buku malah sama sekali tidak mempunyai daya bangkit untuk membaca buku apalagi membelinya.

Selain itu, buku pun diperkenalkan ke beberapa orang tertentu yang memang mempunyai posisi di lingkungannya semisal manajer menengah keatas, entrepreneur sejati, bahkan wakil menteri. Nah, di lingkungan ini pun tidak selalu berhasil meskipun seringkali pembeliannya di luar perkiraan, kalau orang biasanya beli satu buku, kalangan yang punya minat baca dan nampaknya banyak relasi ini pun membeli lebih dari satu, tiga bahkan sampai sepuluh buku. Buku-buku itu tidak untuk dibaca sendiri tapi dibagikan ke koleganya yang nampaknya satu visi atau hanya sekedar hadiah saja.

Banyak juga para manula diatas 45 tahun membeli buku “Jalan Berliku : catatan Perjalanan Seorang Technopreneur” oleh Hari Tjahjono untuk anak-anaknya yang mulai masuk perguruan tinggi atau baru saja lulus S1. Umumnya, jualan buku yang “lumayan” berhasil adalah melalui suatu events atau acara misalnya seminar dengan penulis sebagai pembicaranya atau di acara pertemuan komunitas. Pameran juga merupakan salah satu kanal yang lumayan berhasil untuk menjaring pembeli

Wamen ESDM Bapak Archandra Tahar, memamerkan buku Jalan Berliku : Catatan Perjalanan Seorang Technopreneur

Yang paling sulit ternyata menjual di kalangan dunia maya, meskipun jumlah Likes, Share atau Pageview dapat meningkat cepat, daya beli buku masih minim. Bahkan di situs-situs toko online yang paling bergengsipun untuk mengungkit daya beli, mengarahkan pengunjung membeli buku atau produk lainnya, perlu kerja lebih ekstra dan dana promosi lebih ekstra yang menurut saya masih lumayan mahal.

Senangnya memamerkan buku Jalan Berliku (Ibu Ningsih)

Promosi online harus digenjot terus menerus sampai suatu fase tertentu dari fase awalnya yaitu awareness sampai akhirnya fase konversi yang menghasilkan. Tentu saja kita harus punya rem untuk mengevaluasi hasil promosi yang kita lakukan. Konversi pengunjung laman fanspage atau website buku tidak semudah yang diomongkan karena kita benar-benar tidak tahu persis potensi “real” pengunjung medsos semisal pengguna Facebook atau pengunjung website kita. Meskipun kita sudah mentargetkan mengarah kalangan tertentu tetapi tetapi tetap saja daya beli buku atau minat membeli buku masih sangat rendah dan perlu dibangkitkan lagi.

Penulis dan pembeli dalam suatu rendevu di Gandaria City

Tetapi bagaimanapun juga promosi masih tetap menjadi bagian bagaimana orang menjual produk, baik promosi tradisional dari mulut ke mulut maupun promosi dengan menggunakan teknik promosi online yang lagi gencar dilakukan oleh Medsos seperti Facebook atau Twitter. Lha iya, kalau gak gitu gimana mereka bisa hidup…

ORDER BUKU JALAN BERLIKU DISINI :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *