Mengapa Amerika?

[06:20, 11/4/2017] Hari Tjahjono: Dua hari yang lalu saya diundang mengikuti acara CIO Forum oleh DELL EMC. Topik utama acara makan malam itu adalah menjelaskan produk-produk terbaru dari 2 raksasa IT, DELL dan EMC, yang belum lama merger dan menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia. Dan malam itu saya kembali terkagum-kagum dengan kiprah perusahaan-perusahaan Amerika yang selalu menjadi yang terdepan di bidang teknologi terbaru, terutama IT. Begitu banyak perusahaan Amerika yang muncul ke permukaan, dan mereka menguasai dunia dengan inovasi-inovasi mereka.

Mengapa Amerika? Mengapa bukan Jerman, Inggris, Perancis, Jepang dan Rusia, misalnya? Bukankah mereka adalah negara-negara dengan kemampuan teknologi yang sudah sangat maju juga? Tetapi mengapa selalu Amerika yang leading?

Ada yang bilang itu semua karena technopreneurship. Amerika memang luar biasa kalau bicara masalah technopreneurship ini. Mereka tidak pernah kekurangan talenta-talenta unggul di bidang technopreneurship ini, baik dari dalam Amerika sendiri maupun para imigran dari seluruh dunia yang mengejar mimpinya di Amerika. Ekosistem entrepreneurship memang sangat kondusif di Amerika, dan itu tidak ada di tempat yang lain. Market dalam negeri sudah sangat besar yang kalau dijadikan pilot project sudah cukup mewakili pasar dunia. Angel investor yang siap mengambil resiko juga bertebaran di seantero Amerika, yang membuat calon-calon entrepreneur pede berjibaku mengejar mimpinya karena para angel investor itu juga siap berjibaku menanggung resiko. Sebuah ekosistem yang tidak kita temukan di negara-negara lain.

Bagaimana dengan Indonesia? Memang terlalu berlebihan kalau kita ingin seperti Amerika. Dengan karakter manusia dan karaketer pasar yang berbeda, mestinya Indonesia bisa menemukan jalannya sendiri dalam bidang entrepreneurship ini. Gojek, Traveloka, Bukalapak, Tokopedia adalah bukti potensi Indonesia yang patut diperhitungkan dalam dunia technopreneurship ini. Semoga anak Jaman Now bisa terus mengembangkan potensinya, dan kita sebagai anak Jaman Soeharto bisa terus memberi dukungan yang positif. Semoga.

Salam, Hari